Digital Media Online

Tahun 2021, UMK Kota Tegal Naik 3 Persen Menjadi Rp 1.982.750

0 18

INFOPANTURA.COM (Tegal) – Tahun 2021, Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal melalui Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) akan menaikan upah minimum kota (UMK) sebesar 3 persen atau Rp 57.750, dari Rp. 1.925.000 menjadi Rp. 1.982.750. Kenaikan 3 persen itu usulan dari Dewan Pengupahan Kota Tegal, meliputi pengusaha dan perwakilan buruh saat rapat pembahasan UMK di sebuah Kafe di Komplek Nirmala Squre, Kamis 05November 2020.

Menurutnya Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono, usulan dari Dewan Pengupahan itu nantinya akan disampaikan ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

“Tadi disepakati ada kenaikan 3 persen. Dari Rp. 1.925.000 menjadi 1.982.750. atau naik sekitar Rp 57.750,” kata Dedy Yon.

Dedy berharap, kesepakatan itu, bisa diterima seluruh pelaku usaha termasuk para pekerja. “Tentunya sudah mempertimbangkan dari dua pihak, untuk kesejahteraan buruh, dan tidak memberatkan pengusaha,” kata Dedy.

Dengan adanya kenaikan upah 3 persen, Dedy berharap buruh bisa semakin sejahtera. Di sisi lain, juga tidak menganggu iklim usaha di Kota Tegal.

“Ke depan Kota Tegal punya program menjadikan destinasi wisata. Pembenahan area publik, agar banyak wisatawan atau pengunjung datang ke Tegal. Termasuk jemput bola menarik investor agar ke Kota Tegal,” terangnya.

Dedy mengatakan, meski usulan kenaikan UMK Kota Tegal hanya 3 persen atau dibawah Jawa Tengah sebesar 3,27 persen, namun tentunya sudah melalui berbagai pertimbangan.

“Untuk regulasi di Jateng sebesar 3,27 persen, kita hampir sama. Kenaikan UMK ini tentunya dengan telah mempertimbangkan indeks ekonomi dan sirklus ekonomi saat ini,” pungkasnya.

Kepala Disnakerin Kota Tegal R. Heru Setiawan mengatakan, meski nanti sudah diusulkan dan disetujui, perusahaan atau pelaku usaha bisa melakukan penangguhan sesuai mekanisme yang berlaku.

Salah satu syaratnya, adalah perusahaan yang misalnya omzetnya sedang mengalami penurunan karena imbas pandemi Covid-19.

“Sesuai dari Provinsi bisa saja perusahaan mengajukan penangguhan, tentu ada mekanismenya. Namun hasil survey pribadi saya, rata-rata pelaku usaha tidak keberatan,” kata Heru.

Heru mengaku pihaknya sudah melakukan maping atau sampling terhadap 40 perusahaan di Kota Tegal. Hasilnya, sebagian besar omzetnya berada di level kenaikan atau stagnan.

“Dari sampling 40 perusahaan, hasilnya  35 persen perusahaan omzetnya tumbuh, 35 stagnan, dan 30 turun. Dengan 70 persen ini sudah bisa mewakili untuk bisa ada kenaikan UMK,” pungkasnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.