Digital Media Online

Lesehan Bareng Siswa, Gaya Walikota Saat Beri Sosialisasi

0

IMG_0836

INFOPANTURA.COM-TEGAL – Selalu dekat dengan siapa saja itulah sikap yang ditunjukkan Walikota Tegal Hj. Siti Masitha Soeparno. Tak terkecuali dengan para pelajar SMP N 13 Tegal, Walikota tanpa risih duduk lesehan bersama para pelajar untuk menyampaikan penyuluhan secara langsung tentang Sosialisasi Upaya Pencegahan Tindak Kekerasan Terhadap Anak Tahun 2016, di SMP 13 Tegal, Kamis (18/02).

Sosialisasi yang diprakarsasi Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Keluarga Berencana (BMPKB) Kota Tegal bersama Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Puspa menyasar pelajar SMP sebagai upaya mencegah pencegahan tindak kekerasan terhadap anak dengan menghadirkan narasumber dari PPT Puspa dan Walikota Tegal.

Selain duduk lesehan, sosialisasi yang disampaikan oleh Walikota tidak berjarak, malahan saling berhadapan dengan para siswa yang mengikuti sosialisasi. Walikota pun mengajak berdialog para siswa yang duduk melingkari Walikota yang akrab disapa Bunda Sitha. Sehingga antara Bunda Sitha yang memposisikan diri sebagai Bundanya para pelajar terlihat akrab dan demikian juga siswa tak merasa canggung untuk berdialog.

Walikota berdialog dengan meminta para pelajar untuk terbuka tentang apa yang dialami. “Ayo kita ngobrol. Masa puber itu apa?”tanya Bunda Sitha.

Seorang siswa menyebut bahwa puber itu adalah perubahan perilaku. “Jadi masa puber adalah masa-masa yang sekarang ini anak-anak alami, ada perliku dan perubahan pola pikir dan rawan terhadap godaan dan gangguan  yang bisa merusak ahlak,” ungkap Walikota.

Walikota juga mempertanyakan apakah itu LGBT. Namun banyak peserta yang tidak tahu menahu mengenai apa itu LGBT.Kemudian Walikota meminta Kepala BMPKB dr. Moehammad Hafidz, MKes untuk menerangkan apa itu LGBT.

“Banyak disebut di media dan koran, LGBT adalah komunitas yang melakukan penyimpangan seksual. Yaitu Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. Itu semuanya adalah penyimpangan orientasi seksual jadi  ini adalah penyakit masuk dalam kategori kelainan jiwa. Jadi kalian harus menghindari itu semua,” ungkap dr. Hafidz.

Walikota juga memperingatkan anak-anak untuk menjaga ahlak. Salah satunya menghisap rokok karena rokok dibeli dengan uang dari orang tua yang membanting tulang mencari uang.

“Itu adalah awal dari pergaulan yang tidak baik dan menjerumuskan dalam kekerasan seksual dan penyimpangan seksual,” tutur Walikota.

SMP mudah diajak oleh komunitas yang tidak benar, bagaimana nanti masuk SMA dan seterusnya, kemudian bagaimana menjadi manusia yang berguna.

“Ingat semua anak-anak jagalah pergaulan dengan baik, tetap sopan santun dan berbakti kepada orang tua dan para pendidik. Itulah yang palling penting. Kalau ada persoalan dengan teman jangan diselesaikan sendiri, tapi bawa kepada gurunya supaya bisa diselesaikan,” saran Walikota.

Sekretaris BPMPKB Siti Cahyani MSi mengatakan pelaksanaan kegiatan sosialisasi sebagai upaya pencegahan tindak kekerasan terhadap anak. BPMPKB menghadirkan nara sumber yangmerupakan anggota PPT Puspa. Antara lainKejaksaan, Pengadilan, Psiklog Andryani S.psi dan Wakil Ketua PPT Puspa Ratna Edy Suripno.

“Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun dan bergiliran. Sosialdiasi dilaksanakan 8 kali kegiatan dan tahun ini di dua SMK, dua TK dan empat SMP di Kota Tegal,”  ungkap Siti Cahyani. Mengapa sosialisasi di TK juga dilaksanakan, Siti beralasan bahwa di tahun 2015 telah terjadi pelecahan terhadapanak dengan korban anak-anak usia PAUD.

“Materinya UU Perlindungan anak,  tentang kesehatan reproduksi remaja, pencegahan kekerasan dari sisi kejiwaan oleh psikolog dan lain sebagianya,” ungkap Siti Cahyani.

Siti juga mengatakan siswa dibeirkan materipeningkatan kesadaran masyarakat agar mulai membuka diri untuk melaporkan tindakan kekeraaan yang dialami kepada PPT Puspa..

Sementara Ratna Edi Suripno mengatakan terkait dengan sosialisasi ini adanya kejadian tindakan kekerasan di 2015. Sehingga di tahun 2016 dilaksanakan sosialisasi pencegahan. “Sekitar 28 kasus ditangani PPT Puspa. Belum termasuk pelaporan dari yang lain. Jumlah itu yang berani melapor. Kalau yang tidak berani melaporkemungkinan lebih bayak. Jadi kami ingin peran aktif masyarakat untuk supaya mencegah tindakan kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan yang terjadi diluar,” harap Ratna. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.