Digital Media Online

Inflasi Kota Tegal 2015 Sebesar 3,95 Persen

0

IMG_9246

INFOPANTURA.COM-TEGAL – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal Joni Marsius menyebut inflasi di Eks Karesidenan Pekalongan pada tahun 2015 tertinggi di Kabupaten Pemalang dan terendah di Kabupaten Batang. Sementara Kota Tegal tertinggi urutan kedua setelah Kabupaten Pemalang.

Hal tersebut diungkapkan Joni saat High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Tegal di Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Kamis (04/02/2016). Hadir Walikota Tegal Hj. Siti Masitha Soeparno, Plt. Sekda Kota Tegal Dyah Kemala Sintha, SH, MH, perwakilan Anggota Forkopimda, Kepala SKPD di Lingkungan Pemkot Tegal dan anggota TPID Kota Tegal.

“Beberapa capaian inflasi kabupaten/kota di wilayah eks Karesidenan Pekalongan 2015, secara tahunan (yoy), menyebut inflasi terendah di Kabupaten Batang dan inflasi tertinggi di Kabupaten Pemalang,” ungkap Joni Marius.

Secara berurutan Inflasi di Kabupaten Pemalang 4,09 persen, Kota Tegal 3,95 persen, Kabupaten Tegal 3,64 persen, Kabupaten Pekalongan 3,42 persen, Kota Pekalongan 3,46 persen, Brebes 3,08 persen, dan Batang 2,94 persen.

Disebutkan Joni, 20 besar komoditas penyumbang inflasi 2015 antara lain gula pasir, roko kretek filter, bawang merah, rokok kretek, beras, tukang bukan mandor, mie, sate, daging ayam ras, bawang putih, bubur kacang hijau, tarif listrik, telur ayam ras, bahan bakar rumah tangga, angkutan antar kota, teh, kontrak rumah, es, kue basah dan mobil.

Kota Tegal ada 5 komoditas penyumbang inflasi terbesar yakni daging ayam ras 0,1878, tarif listrik 0,1259, beras 0,1195, bawang putih 0,0588 dan gula pasir 0,0587. Sementara komoditas penyumbang deflasi terbesar antara lain angkutan dalam kota -0,1276, bensin -0,1165, bawang merah -0,0167, cabai rawit -0,0167 dan cabai merah -0,0166.

Sementara itu, realisasi inflasi IHK kota Tegal Januari 2016 tercatat sebesar 0,62% (mtm) atau  4,69% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat 0,96% (mtm). Tekanan inflasi pada periode Januari ini terutama bersumber dari inflasi kelompok Administered Prices  dan Volatile food.

Inflasi disebabkan kenaikan harga beras, gula pasir, bawang putih akibat menurunnya stok pasca musim anen serta sate dan apel. Koreksi harga pangan terutama opada komiditas bawang merah, telur ayam ras, dan cabai rawit akibat pasokan yang mencukupi.

Deflasi disebabkan koreksi harga beberapa komoditas strategis seperti bensin bersubsidi yang berlaku per 5 Jan’16 (Premium turun menjadi Rp7.150/ liter dari semula Rp7.300/liter serta solar Rp5.950/liter dari semula Rp6.700/liter); dan penurunan tarif angkutan darat. inflasi kelompok ini sedikit menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya namun masih disumbang harga emas yang terpengaruh harga komoditas dunia, minyak goreng,  harga mobil dan telepon seluler.

Walikota Tegal Hj. Siti Masitha Soeparno dalam arahannya kepada TPID Kota Tegal menyatakan bahwa sudah dua tahun berturut-turut TPID Kota Tegal telah meraih nominator TPID terbaik. Walikota berfikir bahwa Kota Tegal dalam waktu dekat akan mendapat predikat terbaik. “Untuk itu koordinasi dan kerja sama kita semua kemudian berbagai upaya pengendalian inflasi di Kota Tegal telah dilakukan. Penguatan TPID, sidak ke pasar tradisional dan pasar modern yang dampaknya besar sekali, seperti sidak bersama Forkopimda dan BI. Memang akan terus kita bangkitkan. Jadi koordinasi, sidak, fokus serta passion harus dilakukan. Dengan telah diaktifkan kembali running text di Pasar Pagi  menjadi penting sebagai informasi masyarakat mengenai harga kebutuhan pokok dan sebagai upaya membangun ekspektasi kepada masyarakat,” ungkap Walikota.

Selain itu, Rakor TPID Kota Tegal harus tetap dikuatkan. Sementara terkait dengan beberapa komidi gula, beras, tepung memang menjadi perhatian TPID Kota Tegal untuk ditindaklanjuti. Sedangkan Walikota telah menginstal  Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi (SiHaTi). “SiHati akan dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai media komunikasi dengan Gubernur Jawa Tengah dan pemangku kepentingan untuk pemantauan harga sebagai upaya pengendalian inflasi. Sudah diinstal dan sudah runniing,” ungkap Walikota.

Untuk penguatan kelembagaan TPID sesuai instruksi Mendagri  juga dilaksanakan. Hal itu sebagai pedoman penyusunan tim dan kegiatan. Sementara TPID juga segera menyusun road map pengendalian inflasi Kota Tegal yang menyentuh permasalahan struktural dan memperhatikan jangka waktu dan target yang jelas disesuaikan dengan program pembangunan ekonomi dan pemerintahan.

“Slogan Pemerintah Kota Tegal adalah kota pro investasi, untuk itu perlu pertumbuhan ekonomi yang baik, kerja sama dengan pemda lain dan pengendalias harga di Kota Tegal, melakukan komunikasi dengan masyarakat agar berbelanja dengan bijak dan menyampaikan informasi pelayanan dalam kegiatan Walikota Menyapa,” jelas Walikota.

Informasi kepada masyarakat juga dilakukan sebagai upaya mengantisipasi harga pasar. Hal tersebut dilakukan media-media tertentu sehingga komunikasi masyarakat dan pedagang dalam rangka membangun ekspektasi inflasi kepada masyarakat dapat terwujud sehingga terjadi kestabilan harga di Kota Tegal. (*)

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.