Digital Media Online

Peringati Sumpah Pemuda, GSNI Pemalang Gelar Wayang Kulit

0 124
pagelaran wayang kulit oleh GSNI kabupaten Pemalang dalam rangka peringatan hari sumpah pemuda 2017

INFOPANTURA.COM – Pemalang – Dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2017, Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) kabupaten Pemalang menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di halaman kampus kesehatan SMK Amanah Husada, jalan Pemuda Pemalang, Sabtu (28/10).

 

Dengan dalang ki Sindhunata dari Semarang dan ki Dr. HC. Sutarko Hadiwacono dari Purworejo, pagelaran wayang kulit dengan lakon “Sang Parikesit” dihadiri oleh Staf khusus Gubernur Jateng, Ripana Puntarasa, siswa siswi se-kabupaten Pemalang, serta para undangan.

 

Dalam sambutanya, Ripana menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya agenda tersebut karena di era globalisasi sekarang ini hampir mayoritas pemuda lebih mengenal teknologi daripada budaya bangsa.

 

“Sekarang ini mayoritas anak muda kurang mengenal budaya sendiri. Nah, dengan pagelaran wayang kulit ini, diharapkan para pemuda di Pemalang bahkan di seantero Indonesia bisa memiliki kepribadian dalam bidang kebudayaan karena budaya untuk kalangan pemuda sangat diperlukan,” sambut Ripana.

 

Sementara itu, Slamet Riyadi, SH.SHI dalam keteranganya mengatakan bahwa, cerita Parikesit yang diangkat dalam lakon wayang adalah seorang tokoh muda penerus pandawa.

 

“Dikisahkan, dunia hitam pada saat itu bergejolak dengan banyaknya penyebaran isu yang menyesatkan sehingga membuat suasana gaduh dan agar antar saudara bisa saling curiga satu sama lain. Melalui proses pendadaran, reposisi dan regenerasi yang dipersiapkan secara matang oleh para leluhur, disebutlah Parikesit, raja di astina pura dengan gelar prabu Kresnadipayana. Meski banyak rintangan dan godaan yang dihadapi namun Parikesit selalu memegang teguh ajaran kautamaning prabu dan alhasil semua hambatan bisa diselesaikan secara elegan. Sura dira jayaningrat lebur dening pangestuti,” ungkapnya.

 

Acara tentang “Nguri-nguri budaya” atau menghidupkan kembali budaya ini, menurutnya Slamet, muncul atas kegelisahan anak-anak GSNI Pemalang yang notabene anak-anak muda generasi penerus bangsa.

 

“Fenomena bahwa pada kenyataanya anak muda sekarang kurang mengenal dengan akar budaya bangsa sendiri menjadi dasar dan gagasan untuk GSNI mengadakan pagelaran wayang kulit ini,” pungkasnya.

 

Agenda pagelaran wayang kulit yang dimulai sekira pukul 19.00 WIB dibuka dengan tarian dari teater Asada dan seni tari Sesonderan. *(benx)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.