Digital Media Online

Dikembangkan, Bordir Jadi Potensi Kota Tegal

0

IMG_6274

INFOPANTURA.COM-TEGAL- Industri kerajinan bordir di Kota Tegal sudah lama dirintis, namun potensinya belum dikembangkan secara optimal. Melalui pelatihan yang dipandegani Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskop UMKM dan Perindag) Kota Tegal, potensi bordir di Kota Tegal diharapkan mampu meningkat dan memiliki daya saing sehingga tidak tertinggal dengan daerah lain.

“Dengan mengikuti pelatihan bordir peserta dapat meningkatkan daya saing agar tidak ketinggalan dengan daerah lainnya,” ungkap Walikota Tegal Hj. Siti Masitha Soeparno saat sambutan dalam Acara Penutupan Pelatihan Bordir yang diikuti 20 peserta Kelompok Usaha Bersama Mutiara Sepakat, di Balai Kelurahan Debong Kidul, Senin (15/02/2016). Hadir Plt. Sekda Kota Tegal Dyak Kemala Sintha, SH, MH, Plt. Kepala Diskop UMKM dan Perindag Kota Tegal Drs. Soeripto, Kepala Bagian Humas dan Protokol Setda Kota Tegal Dra. Hendiati Bintang Takarini, MM dan Camat Tegal Selatan Herlien Cokrowati.

Selain menutup kegiatan Pelatihan Bordir yang telah dilaksanakan selama empat hari, Walikota dalam kesempatan itu menyerahkan bantuan peralatan berupa empat unit mesin jahit dan empat unit bordir dan perlengkapan menjahit.

Walikota mengharapkan peserta pelatihan agar terus berkreasi dan tidak berhenti untuk berkarya dengan selalu menggali ide-ide baru. Sehingga produk-produk kerajinan bordir hasil kreasi para peserta dapat menjadi andalan Kota Tegal dan diikutkan dalam ajang pameran.

Disebutkan Walikota, jika pameran di Jawa Tengah itu hampir setiap daerah rata-rata menampilkan batik. Pemalang, Brebes, Pekalongan, Magelang punya batik dan demikian juga Kota Tegal punya batik. Tetapi bagaimana bisa produk Kota Tegal mempunyai nilai lebih di bandingkan Kota lain dengan menampilkan kreasi bordir. Selain itu, pengembangan bordir mampu menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tegal.

Walikota mengatakan jika ada ajang untuk ikut pameran, bordir bisa diikutseratakan sehingga stand Kota Tegal tidak hanya itu-itu saja. Misalnya batik, telor asin dan lain sebagainya yang juga ada di stand milik kota lain. “Ibu-ibu adalah bagian mendobrak potensi daerah kita. Apa dampaknya, PAD kita dampaknya. Perputaran uang di Kota Tegal tidak keluar daerah. Selain itu kita bisa menambah lapangan pekerjaan, dengan menjahit dirumah, mendapatkan upah sehingga secara tidak langsung berperan mengurangi pengangguran. Ibu harus menjadi agen pembangunan. Ibu-ibu ini potensinya besar,” ungkap Walikota bangga.

Walikota pun menyemangati para peserta pelatihan untuk membuat karyanya lebih cantik dan lebih terpola. Bahkan Walikota menyebut usaha yang digeluti para pengrajin bisa menjadi besar jika dilakukan dengan telaten. “Ini baru kecil-kecilan tetapi segala sesuatu yang mau besar, itu dimulai dari yang kecil. Tidak instan langsung besar. Kalau mau mendalami dan ingin menjadi industri, memang dimulai dari usaha rumahan seperti ini,” tutur Walikota.

Salah seorang peserta pelatihan, Korijah (63), warga RT 04 RW III Debong Kidul, Kecamatan Tegal Selatan Kota Tegal mengatakan permasalahan modal menjadi alasan utama usaha belum berkembang. Meskipun banyak pesanan namun pemesan hanya memberikan bahan saja.

“Dengan pelatihan ini kami sudah kerjakan pola. Sebelum pelatihan kami juga sudah sering menerima pesanan, misalnya dari ibu-ibu pengajian. Sehari dibagi tugas ada yang memotong ada yang brodir, kalau digabung-gabung dua hari baru dapat satu pesanan,” ungkap Korijah yang telah berkecimpung sejak 1975. Korijah juga berperan mendirikan kelompok Mutiara Sepakat sejak tahun 1998.

Sementara Plt. Kepala Dinkop UMKM dan Perindag Kota Tegal Drs. Soeripto mengatakan kegiatan Pelatihan Bordir dilaksanakan selama empat hari diikuti oleh satu kelompok usaha bersama Mutiara Sepakat dengan anggota sebanyak 20 orang.

“Diserahkan juga bantuan peralatan berupa empat unit mesin jahit 4 unit bordir dan perlengkapan menjahit. Ini luar biasa dan kita patut bersyukur. Karena tidak semua warga Kota Tegal mendapatkan pelatihan dan bantuan ini. Dari 300.000 jiwa penduduk Kota Tegal hanya yang mendapatkan kesempatan ini sebanyak 20 orang,” ungkap Soeripto.

Disebutkan Soeripto, 20 orang anggota terdiri 16 anggota warga Debong Kidul dan 4 orang warga Kelurahan Randugunting.

Soeripto mengharapkan peserta pelatihan benar-benar bisa memanfaatkan kesempatan yang langka, sehingga setelah pelatihan ada tindak lanjut. “Nanti kapan waktunya karya ibu-ibu kalau memang pantas dipamerkan di Jakarta, kenapa tidak, kalau benar-benar bisa dipamerkan,” ungkap Soeripto.

Mengenai permodalan, Soeripto menyarankan anggota kelompuk usaha untuk membentuk koperasi. “Jika perjalanan masih panjang bisa dibentuk suatu koperasi dengan anggota minimal 20 orang, dan sudah memenuhi syarat,” tutur Soeripto.

Selain itu Pemkot Tegal memberikan pelayanan Ijin Usaha Mikiro Kecil (IUMK) yang baru dilaksanakan di Kecamatan Margadana dan tahun ini dalam waktu yang tidak lama lagi akan dilaksanakan di seluruh Kecamatan di Kota Tegal.

“IUMK bisa digunakan untuk fasilitasi permodalan dari perbankan maupun lembaga keuangan. Kemarin ada tawaran dari bank dengan pengajuan maksimal Rp. 5 juta tanpa agunan dengan agunan selembar ijin IUMK yang dikeluarkan kecamatan,” sebut Soeripto.

Dengan berkembangnya usaha ini, Soeripto mengharapkan kedepan usaha ini benar-benar dilaksankan akan mampu memberikan peningkatan kesejahteraan keluarga. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.