Digital Media Online

Terbukti Langgar Aturan Kampanye, Simpatisan Junaedi-Martono Divonis 2 Bulan

0

 

sidang kasus pelanggaran Pilkada Pemalang
sidang kasus pelanggaran Pilkada Pemalang

INFOPANTURA.COM – Pemalang – Sidang perkara pelanggaran Pilkada atas terdakwa Slamet Arif Alamin kembali digelar di ruang sidang utama Pengadilan Negeri Pemalang, Selasa (24/11). Sidang yang dengan agenda pembacaan putusan dimulai sekira pukul 09.30wib.

Sidang dipimpin oleh majelis hakim yang diketuai oleh Mahaputra, dengan hakim anggota Rintis Candra dan Kurnia Dianta Ginting, serta JPU Soegeng Prakoso, SH.

Oleh JPU, pada sidang sebelumnya terdakwa dituntut 3 bulan kurungan dengan masa percobaan 6 bulan karena terbukti telah melanggar pasal 187 pasal 3 jo UU RI no 1 tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota yakni dengan menggunakan fasilitas pemerintah untuk berkampanye calon bupati Junaedi di balai desa Bongas kecamatan Watukumpul kabupaten Pemalang beberapa waktu lalu.

Namun dalam pembacaan putusan, terdakwa Slamet Arifin diputus hukuman 2 bulan kurungan dengan masa percobaan 4 bulan, dikenakan denda sebesar 1 (satu) juta Rupiah subsider 1 (satu) bulan kurungan. Dan barang bukti berupa 2 lembar stiker semarak PKH, 4 lembar stiker gambar Paslon nomor urut 2 Junaedi-Martono, 1 (satu) buah handphone Nokia yang bagian belakangnya tertempel stiker paslon Junaedi-Martono disita oleh Negara untuk dihanguskan.

Seperti diketahui, Slamet Arifin Alamin, warga desa Majalangu kecamatan Watukumpul melakukan kampanye, mensosialisasikan keberhasilan bupati Junaedi hingga pada saat pencoblosan dia mengatakan akan memilih Juneadi. Hal tersebut dilakukan saat di balai desa Bongas kecamatan watukumpul dilaksanakan pertemuan warga dalam kegiatan program pemerintah yaitu Program Keluarga Harapan (PKH). Saat itu Slamet juga sempat memberikan stiker berupa gambar paslon nomor urut 2 Junaedi-Martono.

Hal yang memberatkan dalam putusan tersebut adalah perbuatan terdakwa bisa merusak dan atau mencederai pelaksanaan Pilkada itu sendiri. Sementara pengakuan bahwa terdakwa menyesali perbuatannya, belum pernah dipenjara, mempunyai keluarga dan anak yang masih kecil, bertindak sopan dan tidak berbelit-belit dalam persidangan menjadi opsi meringankan bagi terdakwa sendiri.

Atas putusan tersebut, kedua kuasa hukum terdakwa, Aji Sudarmaji dan Anggoro menyatakan pikir-pikir atas putusan majelis hakim. *HP(benx)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.