Digital Media Online

Bisnis Perlengkapan Drumband Jadi Bisnis Turun Temurun

0

perlengkapan drumband

INFOPANTURA.COM – Slawi – Setiap kali penyelenggaraan karnaval atau pun pawai, masyarakat pastinya akan selalu dipertunjukan aksi group-group drumband dari beberapa instansi. Tentunya yang menjadi daya tarik tersendiri bagi grup drumband adalah alunan musik perkusi yang dihasilkan serta pernak-pernik yang digunakan anggota group seperti topi, sepatu dan baju. Pernak-pernik yang digunakan tersebut tentunya membutuhkan tangan-tangan terampil agar terlihat indah saat dikenakan.

Adalah Hj Toriha, salah satu pengusaha aksesoris perlengkapan marching band yang memiliki kehalian dalam membuat pernak-pernik yang indah untuk dikenakan anggota grup drumband. Hal itu sudah menjadi kewajaran tersendiri, sebab hampir Empat puluh Sembilan tahun lamanya ia menekuni usahanya itu.

Selama itu ia gigih menghadapi berbagai tantangan dan kendala, hingga usahanya tetap ada sampai sekarang. Saat ditemui wartawan tabloid infopantura, Hj Toriha menuturkan, ia memulai usahanya sejak tahun 1965.

Dengan mengusung brand “AVON”  ia mulai merangkai berbagai perlengkapan Marching band seperti,Topi, sepatu, baju, baik untuk seragam personel maupun untuk sang mayoret. “ Bahkan sandal atau slop  untuk pakaian adat juga kami produksi,” katanya.

Rintisan usahanya tak sia-sia, hingga kini ia pun selalu kebanjiran order terutama saat mendekati hari-hari besart seperti saat 17 Agustus 2014. Pada saat-saat itu, biasanya pemesanan akan selalu naik dibandingkan pada bulan-bulan biasanya.

“ Untuk mengatasinya, saya bantu 4 orang karyawan, dengan demikian rata-rata perhari bisa memproduksi topi mayoret 10 buah, Baju mayoret 5 pasang, Sepatu mayoret 5 pasang dan paling banyak Slop/sandal mencapai 10 kodi perhari. Untuk pemasaran sebagian besar wilayah Tegal, Slawi, Brebes, Bumiayu hingga Losari,” tandasnya.

Menurut Hj Toriha harga produknya sangat kompetitif. Untuk topi mayoret dibandrol Rp 100 ribu per buah, sedangkan Sepatu Rp 150-200 ribu per pasang dan untuk Slo atau sandal dipatok dengan harga Rp 80-100 ribu per pasang.

Toriha mengatakan bahan-bahan produksi untuk sepatu maupun slop terbuat dari kulit dan imitasi. Biasanya bahan baku didatangkan dari sekitar wilayah Tegal maupun Semarang. Dengan prinsip menjaga kualitas produk dan kepuasaan pelanggan usaha ini tetap eksis di tengah ketatnya persaingan

Hingga usaha yg dirintis sejak tahun 1965 kini sudah dilakukan secara kekeluargaan. Bahkan anak-anaknya telah mandiri dalam usaha yang sama. (yusuf)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.