Digital Media Online

ABK Tegal Terancam Hukuman Mati di Taiwan

0

abk

INFOPANTURA.COM – Kota Tegal – Visa Susanto (23) yang bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) Te Hung Hsing di Taiwan kini terancam hukuman mati. Pasalnya ia bersama 8 rekannya didakwa telah membunuh nahkoda dan mekanik kapal tersebut. Hingga kini proses hukum masih berjalan. Pihak Kementrian Luar Negeri sendiri kini tengah mengupayakan pembelaan terhadap Visa.

Demikian diungkapkan Kepala Subdit IV Direktorat Perlindungan WNI dan BHI June Kuncoro Hadiningrat saat menyambangi kediaman orang tua Visa di Jalan Layang Tegal Sari Kota Tegal Jawa Tengah Sabtu (23/11) pagi tadi. Kedatangan pihak Kemenlu didampingi Ketua Indonesi Fisherman Federation (IFF) Jon Albert Situmeang.

Menurut June saat ini Pemerintah melalui Kementrian Luar Negri tengah mengupayakan pembelaan terhadap para ABK tersebut. Langkah yang kini dilakukan pihaknya yakni dengan menyiapkan penerjemah agar selama proses persidangan informasi yang diterima tidak simpang siur. Kemudian pihaknya juga menyiapkan sejumlah pengacara, masing – masing ABK 1 pengacara.

“ Saat ini kami menyiapkan 9 pengacara untuk para ABK. Selain itu kami juga melakukan upaya lainnya sehingga yang bersangkutan bisa dibebaskan atau paling tidak bisa diringankan,” katanya.

June mengatakan kedatangan pihaknya dalam rangka menyampaikan informasi yang sebenar – benarnya kepada pihak keluarga. Sehingga pihak keluarga tidak khawatir dengan kondisi Visa. Bahkan pihaknya mengingatkan kepada keluarga korban untuk tidak percaya dengan orang maupun organisasi tertentu yang menawarkan jasa pembebasan namun meminta sejumlah imbalan.

“ Apa yang dilakukan Kemenlu sama sekali tidak dimintai biaya. Oleh karenanya kami mengingatkan kepada pihak keluarga untuk tidak mudah percaya kepada pihak – pihak yang sengaja memanfaatkan situasi,” tegasnya.

Ia berharap kepada keluarga untuk menyerahkan masalah tersebut kepada pihaknya. Karena kini pihaknya tengah mengupayakan yang terbaik bagi Visa.

Penanganan masalah yang menimpa Visa dan ABK lainnya oleh BPN2TKI dinilai lambat IFF. Menurut Jon Albert Situmoang, kasus yang menimpa Visa sudah berjalan 6 bulan. Namun dari pihak BNP2TKI belum pernah mengunjungi keluarga korban. “ Mereka solah tutup mata atas persoalan ini, dan ini tidak boleh dibiarkan begitu saja,” katanya.

Jon mengatakan pihaknya akan terus mendampingi keluarga korban untuk mendapatkan hak – hak yang selama ini terabaikan. Pihaknya juga akan terus mengawal kasus tersebut hingga tuntas.

Sementara itu, Tarmad (45) orang tua Korban mengisahkan anaknya berangkat ke Taiwan melalui perantara PT Winda pada 2010. Sesuai kontrak yang ada anaknya akan bekerja disana hingga 2012. Namun pada saat konrak anaknya habis, anaknya memberi kabar kepadanya tidak diperkenankan pulang.

“ Kata anak saya, dia diancam oleh Nahkoda tidak akan dibayarkan gaji dan tunjangannya. Karena takut anak saya kembali berangkat dengan kapal tersebut. Sejak saat itu saya kehilangan kontak dengan anak saya,” kisahnya.

Selang beberapa bulan kemudian, lanjut Tarmad, ia memperoleh kabar tak sedap yang menimpa anaknya. Ia pun berupaya mencari informasi terkait masalah tersebut. Dan hingga kini ia pun tetap berharap anaknya bisa pulang dengan bebas.

“ Kami berharap Pemerintah mau turun tangan. Tidak hanya sekedar janji-janji belaka, kami tetap berharap Visa bisa dibebaskan. Dan tentunya hak – haknya juga dipenuhi,”katanya. (teguh@infopantura.com)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.