Digital Media Online

Kirab Babad Kepatihan Di Solo Meriah

0

kirab babad kepatihan

INFOPANTURA.COM – SOLO – Kirab Babad Kepatihan dengan mengambil tema “Pitonan” yang diselenggaran Kelurahan Kepatihan Wetan, Banjarsari, Solo berlangsung meriah, Selasa (29/10). Gunungan sedekah bumi seberat 3,5 kwintal atau sekitar 350 Kilogram (Kg) yang ikut dikirab habis diserbu warga dalam hitungan menit di halaman Kantor Kelurahan Kepatihan Wetan.

Kirab dimulai pukul 15.00 WIB star dari depan Kelurahan Kepatihan Wetan menuju Bundaran Gladag dibuka secara langsung oleh Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo.

Kirab digelar ketiga kalinya itu melibatkan ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat dengan menampilkan potensi kesenian yang dimiliki kelurahan setempat. Adapun urutan peserta kirab ini adalah Forider, pasukan kuda, pasukan bendera merah putih, gamelan renteng, prajurit SMKI, perbankan, gunungan buah, diikuti warga RW II Kelurahan Kepatihan Wetan, KTI, Pokdarwis, red batik, barongsai, reog, PAUD, forum anak dan lain-lainnya.

Kemudian rute perjalan kirab dimulai dari depan Kelurahan Kepatihan Wetan menuju ke timur perempatan melewati Jl Urip Sumoharjo melewati Tugu Jam Pasar Gede ke barat melewati jembatan ke selatan melewati Jl Jenderal Sudirman memutar Bundaran Air Mancur Gladag kemudian ke utara melewati depan Balaikota ke utara melewati Jl Surya Pranoto dan kembali ke Kantor Kepatihan Wetan.

“Perpaduan dua jenis kesenian ini (reog dan barongsai, red), diharapkan mampu mempererat hubungan antar warga etnis Jawa dengan Thionghoa di Kelurahan Kepatihan Wetan,” papar Lurah Kepatihan Wetan, Tuti Orbawati, Selasa siang.

Ia mencerikan, kirab ini menceritakan tentang wujud syukur selama prosesi kehamilan seorang wanita. Sehingga wanita yang memasuki masa kehamilan tujuh bulan di kelurahan setempat turut dikirab bersama dengan kesenian lainnya.

Disamping itu, lanjut Tuti Kepatihan memiliki sejarah penting dalam kesenian terutama jagad gamelan Jawa. Gamelan Jawa pada awalnya tidak mengenal notasi seperti dikenal saat ini, “Titi Laras” gamelan yang sekarang ini dikenal yakni “Slendro” dengan notasi angka 1234561 dan “Pelog” dengan notasi angka 1234567.

“Inti kegiatan kirab ini adalah memperingati lahirnya notasi gamelan Kepatihan. Karena gamelan Kepatihan ini diciptakan oleh Empu Warsodiningrat pada masa pemerintahan Paku Buwono (PB) X,” jelasnya.

Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengatakan kirab Babad Kepatihan adalah salah satu wujud komitmen Solo sebagai kota budaya. Selain itu, juga sebagai salah satu upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk melestarikan potensi kebudayaan di masing-masing kelurahan. “Ini sebagai komitmen Pemkot Solo untuk menjaga, merawat, melindungi, dan mengamankan kelestarian warisan sejarah,” jelas Rudy sapaan Walikota.

Sementara itu, salah seorang warga Kelurahan Kepatihan Wetan, Susanti, mengaku senang masa kehamilannya yang ke tujuh bulan dipitoni sekalian dalam Kirab Babad Kepatih. Ia mengaku menikah pada 2009 dengan Isdiyanto. “Saya ndak tahu pitonan itu apa, tapi intinya saya senang bisa dipitoni di sini,” ungkap warga asli Pracimantoro, Wonogiri. Ia berharap dengan adanya pitonan ini kehamilannya bisa lancar dan selamat.

Seperti diketahui, ada dua gunungan buah berukuran besar dan 18 troli berukuran sedang berisi sedekah bumi. Meliputi sayuran, buah-buahan, krupuk, dan lain-lain. Semua gunungan itu dikirab mulai dari Kelurahan Kepatihan Wetan menuju Bundaran Gladag dan kembali ke halaman Kantor Kelurahan Kepatihan Wetan.[Zam]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.