Digital Media Online

Soal Banjir, WALHI Tak Sependapat Dengan Walikota Semarang

0 91


INFOPANTURA.COM-SEMARANG- Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Jawa Tengah tidak sependapat dengan argumentasi Walikota Semarang, Hendrar Prihadi yang menyebutkan banjir di Kota Semarang disebabkan cuaca ekstrem.


Direktur WALHI Jateng Fahmi Bastian merilis dengan judul “Banjir Semarang, Potret Dari Bencana Ekologis”, Rabu (10/2/2021). Walikota Semarang di berbagai media, menyebutkan, banjir di Kota Semarang disebabkan oleh cuaca ekstrim dan merupakan siklus 50 tahunan.

WALHI beranggapan Pemkot Semarang tidak serius menyelesaikan banjir dan tidak melihat permasalahan banjir ini dari akar masalahnya. Permasalahan banjir di Semarang bukan semata-mata terjadi karena cuaca ekstrim saja, melainkan juga kebijakan pola tataruang dan perubahan iklim.

Kebijakan pola tataruang berpengaruh besar terhadap kerusakan dari hulu hingga hilir Kota Semarang. Misalkan saja di hulu, akibat perubahan RIK 1975-2000, menyebabkan berkurangnya fungsi-fungsi hidrologis lingkungan hulu sebagai daerah penyanggah Kota Semarang.
Persoalan pola ruang juga terjadi di pusat kota, dimana kemampuan kota dalam menyerap air semakin hari semakin berkurang karena daya tamping saluran-saluran drainse di dalam kota terlampaui yang diakibatkan oleh berbagai permasalahan. Seperti saluran air tersumbat, berukuran kecil hingga banyaknya lumpur (comberan) di saluran air tersebut menyebabkan kota tidak dapat menampung air saat terjadi hujan.

Persoalan hilir Kota Semarang tidak lebih baik dari hulu dan pusat kota, bahkan dapat dibilang lebih parah akibat alih fungsi pesisir menjadi kawasan industry, pariwisata (reklamasi pantai Marina) dan transportasi (reklamasi bandara baru Ahmad Yani dan perluasan kawasan Tanjung Mas) yang bepengaruh terhadap penurunan mukatanah sehingga menyebabkan rob.

Akibatnya, terjadi penumpukan bencana ekologis berupa kombinasi antara banjir kiriman dari hulu dan banjir akibat pasang air laut (rob). Menurut WALHI, inilah pengaruh besar banjir di 45 titik dan longsor yang di 33 titik di Kota Semarang yang memakan 4 korban jiwa dan memaksa 972 mengungsi (news.detik.com/8/2/2021).

Selain menyebabkan banjir dan tanah longsor, perubahan tata ruang juga berpengaruh terhadap pemanasan global dan perubahan iklim, karena banyaknya alih fungsi lahan dari kawasan agraria/hutan menjadi kawasan pemukiman, industri, kampus dan sebagainya menyebabkan berkurangnya fungsi hutan dalam menstabilkan iklim dan pemanasan global.Inilah yang menjadi pengaruh terjadinya cuaca ekstrim berupa curah hujan yang tinggi dan rob yang menjadi dalih Pemkot dalam menanggapi permasalahan banjir di Semarang.

Penyelesaian banjir di Semarang harapannya tidak hanya menjadi janji-janji kampanye saja dan harus ada usaha menyelesaikan permasalahan banjir dari akarnya. Selain itu, dalam membuat RTRW (rencana tata ruang wilayah) Pemkot wajib melaksanakan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dalam penyusunan rencana tata ruangnya sesuai yang diamatkan dalam UU no 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH) pasal 15. Kedepan, perlu adanya mitigasi bencana secara serius agar banjir tidak menjadi bencana tahunan di Kota Semarang. (rilis/baguss)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.